Warning! Darurat Hamil Duluan dan Fenomena Nikah di Bulan Maret-April

Warning bagi orang tua untuk meningkatkan kualitas kehidupan rumah tangga dan ketahanan keluarga. Pasalnya, tren pasangan yang sudah hamil sebelum menikah terus meningkat dari waktu ke waktu. Fenomena ini diperoleh saat bimasislam melakukan kunjungan ke sejumlah KUA di Indonesia.

Di Malang, Jawa Timur, diperkirakan 25 persen calon perempuan yang datang untuk mengajukan pencatatan nikah berada dalam kondisi sudah hamil. Sementara itu di kecamatan Selebar, Kota Bengkulu, sekitar 20 persen pasangan yang dilayani KUA tiap tahunnya dalam kondisi tengah hamil. Diyakini di tempat-tempat lain juga terjadi hal yang sama. Sehingga angka yang sebenarnya bisa jadi lebih besar, karena data tersebut hanya berasal dari pasangan yang secara sukarela mendaftarkan pernikahannya ke KUA, belum termasuk yang menikah secara siri karena malu kepada tetangga. Hal ini menjadi peringatanbagi keluarga Muslim, mengingat jika masalah ini dibiarkan maka akan menjadi masalah sosial yang jauh dari tuntunan agama namun dianggap lazim.
 
Fenomena lain yang tak kalah memprihatinkan adalah tren di kalangan anak muda untuk merayakan tahun baru dan hari valentine dengan melakukan hubungan layaknya suami istri. Hasil penelusuran bimasislam, fenomena merayaan tahun baru di kawasan wisata dengan kekasih sudah menjadi tren baru di kalangan anak-anak muda. “Hal inilah yang menyebabkan angka pernikahan pada akhir bulan Februari, Maret, dan April cenderung lebih tinggi dari pada bulan sebelumnya,” kata sumber bimasislam. Sumber itu juga menyebut bahwa tak sedikit di antara anak-anak muda yang menyewa villa atau hotel untuk menghabiskan malam bersama teman dan kekasihnya masing-masing di malam pergantian tahun layaknya suami istri.
 
Angka pernikahan di bulan-bulan tersebut cenderung meningkat akibat pergaulan yang dilakukan pada bulan sebelumnya, yaitu saat perayaan malam tahun baru dan valentine. “Mereka lalu hamil dan terpaksa menikah pada bulan-bulan itu” ujar sumber tersebut.
 
Peran orang tua dalam hal ini sangat menentukan, terutama dalam hal pegawasan terhadap pergaulan putra dan putrinya. Termasuk dalam hal ini pengenalan agama secara lebih intensif pada anggota keluarga. Selain itu, perlu ada pengalihan perhatian saat menyambut tahun baru atau menjelang tanggal 14 Februari (valentine’s day) dengan acara yang lebih menarik dan bermanfaat bagi generasi muda, sehingga mereka meninggalkan tradisi buruk tersebut.
 
Peran Pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk melakukan pengawasan terhadap kawasan atau pusat-pusat wisata yang diduga dijadikan tempat perayaan oleh anak-anak muda tersebut. “Misalnya membuat aturan hotel yang lebih ketat terhadap pasangan yang menginap tanpa tanpa disertai Surat Nikah.

Selain itu, institusi pendidikan juga berperan penting dalam mendidik generasi muda untuk berhati-hati dan menjauhi pergaulan bebas. “Pencegahan terhadap budaya permisif (serba boleh) itu memang memerlukan peran dari berbagai pihak, selain keluarga, peran sekolah, Pemda, dan juga Kementerian Agama mutlak diperlukan!” ujar sumber tersebut.
 
Selama ini, Kementerian Agama telah melakukan sejumlah upaya untuk menjaga moral dan mencegah terjadinya fenomena hamil di luar nikah. Upaya tersebut antara lain penyelenggaraan kursus pra nikah, pembinaan remaja tentang bahaya pergaulan bebas, bimbingan masyarakat melalui tenaga penyuluh agama, hingga peningkatan ketahanan keluarga melalui pembinaan keluarga sakinah. Meski demikian upaya tersebut masih belum cukup tanpa peran serta dan dukungan dari sejumlah pihak

Sumber : http://bimasislam.kemenag.go.id/

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar