Wakili Menag, Muhammadiyah Amin Resmikan Islamic Center di Raja Ampat

Mewakili Menteri Agama, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Muhamamdiyah Amin meresmikan Gedung Islamic Center Mu’adz bin Jabal di Raja Ampat, Papua Barat, Ahad (29/5).
 
Peresmian pusat pengajaran Islam di wilayah timur Indonesia itu dihadiri sejumlah pejabat antara lain Atase Agama Kedutaan Arab Saudi untuk Indonesia, Ketua Badan Wakaf Indonesia, Kakanwil Papua Barat, Bupati Raja Ampat dan sekretaris Menteri Agama RI.
 
Islamic Center yang dibangun atas kerjasama Kedutaan Arab Saudi dengan Kementerian Agama RI itu bertujuan untuk memperkuat  pendidikan dan keagamaan Islam khususnya di wilayah timur Indonesia.
 
Sebelumnya, pihak kedutaan Arab Saudi telah melakukan sejumlah pertemuan dengan Menteri Agama terkait pendirian pusat Islam tersebut. Menag Lukman Saifuddin sendiri mengapresiasi upaya itu. “Kami mengapresiasi pemerintah Arab Saudi atas proyek tersebut, insya Allah kerjasama seperti ini akan terus dikembangkan,” ujar Menag beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Menag menegaskan, bahwa hubungan di bidang pendidikan dan kebudayaan antara Indoensia dengan Arab Saudi sangat berkontribusi dalam membangun hubungan antar kedua negara. Budaya diplomasi Arab Saudi secara umum dilakukan secara informal, baik politik, ekonomi, maupun investasi yang bersifat prosonal", tegasnya.
 
Islamic Center yang berlokasi di Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat ini merupakan pusat pendidikan dan dakwah Islam pertama yang berada di pulau paling timur Indonesia. Selama ini, Raja Ampat dikenal sebagai salah satu destinasi wisata laut terindah di dunia.
 
Selain pembangunan fisik, sebagaimana dijelaskan panitia Pembangunan Islamic Center, Alfaris Labagu, faktor yang tak kalah penting dalam mengembangkan pusat Islam itu adalah tenaga pengajar yang handal. Untuk itu, pihak Islamic Center telah membuka peluang bagi para pendakwah untuk mengajar di Islamic Center Mu’adz bin Jabal.
 
Ditanyakan mengenai misi pembangunan Islamic Center tersebut, Alfaris mengatakan bahwa Pusat Islam itu dibangun untuk membentengi generasi muda Muslim di Papua Barat dari pengaruh Globalisasi.
 
Pengaruh globalisasi tersebut, terang pria yang juga menjabat sebagai Ketua Al-Fatih Kaffah Nusantara (AFKN) cabang Papua Barat itu, menyusul semakin populernya Raja Ampat sebagai destinasi wisata kelas dunia. “Pengaruh tersebut misalnya, di kalangan generasi muda Muslim di Raja Ampat saat ini sudah terbiasa dengan gaya berpakaian yang mengumbar aurat dan pergaulan bebas,” katanya menjelaskan.

Sumber : http://bimasislam.kemenag.go.id/

Komentar (1)

  • TeNGpHCXYKu

    vkyoyh otdzfvhbjhir, [url=http://wtgjbxaiwwew.com/]wtgjbxaiwwew[/url], [link=http://tjgyutltdsvv.com/]tjgyutltdsvv[/link], http://zmkvmfpzionu.com/

    2017-12-06 03:34:41

Tinggalkan Komentar